
Jumat, 16 Maret 2012
Makna Allah Menjadikan Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi Makna Allah Menjadikan Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi ''Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'' Mereka berkata: ''Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?''. Tuhan berfirman: ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui''(Al-Baqarah[2]:30) Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, ''Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat''. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu'', ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi'', yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman dalam Qs. Faathir : 39. 39. Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'' MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH DI BUMI (PENGOPTIMALISASIAN PERAN MANUSIA) PROSES PENCIPTAAN MANUSIA Al Quran menguraikan reproduksi manusia. Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama kalinya, al Quran menunjukkan: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah” (QS Shad[38]; 71) Tetapi ketika berbicara tantang reproduksi maka secara umu Al Quran menunjukkannya dengan bentuk jamak “Kami”. “Kami” di sini dimaksudkan sebagian ulama dengan adanya campur tangan manusia dalam penciptaan manusia setelah Adam dan Hawa. Yaitu, di dalam proses kelahiran seseorang tidaklah lepas dengan peranan laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan sehingga bertemu antara sperma dan sel telur. POTENSI MANUSIA Potensi manusia antara lain tergambar dalam kisah Adam dan Hawa dalam surat Al Baqarah: 30-39. Di sana disebutkan bahwa sebelum kejadian manusia. Allah telah merencanakan manusia kelak akan memikul tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Untuk tujuan itu maka Allah memberikan anugerah lain selain jasmani dan ruh yaitu: a. potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda b. pengalaman hidup di surga oleh Adam dan Hawa c. petunjuk-petunjuk keislaman (Quraish Shihab, M, Wawasan Al Quran, Mizan, Bandung, 1996) KEISTIMEWAAN MANUSIA Pertama manusia adalah sebaik-baik makhluk dalam penciptaan. Demikian yang tersurat dalam At tin: 4 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” Manusia mempunyai kelebihan otak yang digunakan untuk berpikir, diberikan hati untuk perasaan, belum lagi anggota badan secara umum seperti kepala, tangan, kaki, dan perut. Semua itu adalah kelebihan fisik yang begitu besar manfaatnya. Kedua, manusia diberikan kelebihan sebagai satu-satunya makhluk yang bisa menyerap ilmu sewkaligus mengembangkannya. Hewan hanya memiliki insting, jin tak dapat mengembangkan ilmu, malaikat hanya melaksanakan perintah Allah tanpa berpikir, dan setan menggunakan logika yang salah dengan mengatakan bahwa api lebih mulia dibanding dengan tanah. OPTIMALISASI KEMAMPUAN Optimalisasi kemampuan tercermin dalam pemanfaatan kemampuan dari manusia itu sendiri terhadap potensi-potensi yang dimilikinya. Manusia diberikan kelebihan fisik tersebut guna memasimalkan tugas kekhalifahan di bumi. Dengan otak manusia diharapkan kehidupan di bumi secara umum dapat berkembang dengan baik dan terjaga dari kerusakan. Dengan tangan, manusia diharapkan memiliki kemampuan mencipta, dalam arti memnafaatkan potensi sumber daya dari Allah. Dengan lisan manusia diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Dari hal-hal tersebut di atas maka jelaslah bahwa optimalisasi kemampuan tercermin dari optimalisasi potensi materi yang dimiliki oleh manusia dari Allah. Sekarang kita bisa melihat hasilnya yaitu dengan adanya kapal, pesawat terbang, motor, mobil, dan teknologi lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk kemashlahatan makhluk- manusia, hewan, dan tumbuhan. OPTIMALISASI NILAI-NILAI KEILAHIYAHAN Allah memiliki nama-nama yang baik (asmaul husna). Nama-nama tersebut bukanlah hanya sebagai nama begitu saja. Akan tetapi, nama-nama tersebutr adalah sebagai nilai keilahiyahan bagi manusia yang mengamalkannya. Artinya, tujuan kekhalifahan manusia di bumi akan tercipta dengan baik apabila menerapkan 99 sifat Allah yang terefleksikan dalam kehidupan manusia di bumi. Sebagai missal, Ar Rohmaan yang Maha Pengasih. Manusia diharapkan mampu meminkan peranannya sebgai khalifah di bumi dengan menerapkan kasih sayang terhadap seluruh makhluk. Tidak ada perang, tumbuhan tumbuh dengan suburnya ( sebagai perumpamaan: tak ada daun-dedaunan yang jatuh ke tanah sebelum waktunya –sebelum menguning atau cokelat-), binatang bisa berkembang biak dengan baik (kata Umar r.a.: Tidak ada lembu yang jatuh atau terpeleset karena berjalan di atas jalan yang rusak akibat ulah manusia ), batu dan gunung merasakan kesejukan suasana pegunungan yang segar tanpa terdengar suara mortir; tanpa menahan panas api yang membakar; dan tanpa merasakan panas oleh terik matahari yang menerawang masuk menusuk langsung akibat sudah tidak ada selimut hutan di tubuhnya. OPTIMALISASI PENGELOLAAN ALAM SEMESTA Sesungguhnya semua fasilitas yang sudah tersedia di dunia secara gratus seperti tumbuhan, binatang, angin, udara, air dan apapun adalah untuk manusia. Tentunya hal tersebut dimaksudkan untuk membantu kekhalifahan manusia di bumi. Allah berkali-kali mengatakan bahwa dalam melakukan sesuatu hal, janganlah pernah melampaui batas. Artinya manusia harus bisa berlaku normal sebagaimana adanya. Allah mengatakan bahwasanya potensi-potensi alam itu tidak akan pernah habis tetapi hal tersebut berlaku apabila manusia memnafaatkan dengan sewajarnya. Namun, kejadian sekarang ini, akibat pengaruh industrialisasi, seluruh potensi alam hampir habis di serap untuk kepentingan manusia tanpa berpikir baik buruknya sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem. Sesungguhnya hal tersebut tidak harus terjadi apabila manusia taat dan patuhpada perintah Allah. Janganlah melampaui batas. Optimalisasi alam bukanlah dengan tindakan mengeruk sebanyak-banyaknya potensi alam semesta. Akan tetapi, optimalisasi sebenarnya dimaksudkan untuk mengatur semaksimal mungkin perihal pengelolaan alam. Sehingga tidak terjadi ketidakseimbangan ekosistem. Hutan tidak akan habis hanya oleh karena alasan industrialisasi atau perluasan masalah tempat tinggal. Dengan potensi otak manusia telah diberi akal untuk berpikir bagaiman

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar